Mempertanyakan Kajian Post-Positivisme dalam Teknologi Pendidikan

Knowledge

Sampai sekarang kajian teknologi pendidikan tidak banyak dikaji secara mendalam sampai pada pokok, , atau akar filosofis-ideologisnya, sedangkan menuju pada kajian yang mendalam tersebut mestinya terdapat kajian antara dari sisi sosio, historis, kultur, politik, yang pada kenyataannya juga tidak banyak, dan kalaupun ada relatif tidak mendalam, sekadar analisis pada masalah-masalah permukaan saja.

Diskursus dalam teknologi pendidikan agaknya selama ini masih didominasi oleh paradigma positivis-modernis yang lebih banyak mempermasalahkan dan mengembangakn definisi dan kawasan teknologi pendidikan. Pada akhirnya memang di dalam impelentasinya di lapangan, teknologi pendidikan sekadar berkutat dalam masalah-masalah teori dan praktek –yang tentu masih didominasi paradigma positivis tadi- dalam mendesain, pengembangan, pemanfaatan, pengelolaan dan penilaian proses dan sumber untuk keperluan belajar.[1]

Sejauh penelusuran peneliti agaknya belum banyak kajian filosofis dan ideologis teknologi pendidikan. Beberapa upaya untuk mengkaji teknologi pendidikan dari berbagai perspektif keilmuan, termasuk menyentuh ranah ideologi dan filosofi telah dilakukan oleh beberapa pemikir dan teknolog pendidikan. Namun karena paradigma yang dominan dan seakan menjadi fitrah dari teknologi pendidikan adalah positivis, maka perkembangan kajian teknologi pendidikan dari berbagai perspektif selain dari perspektif positivis, yaitu dari post-positivis, post-strukturalist, post-modernism, termasuk di dalamnya dekonstruksionisme, analisis diskursus Foucauldian, tidak banyak berkembang. Kalaupun ada ia seakan menjadi kajian dan karya pinggiran, marjinal, sebagai representasi ”liyan” (the others) dalam kajian teknologi pendidikan yang hampir sepenuhnya positivis-modernis.

Dekonstruksionisme misalnya telah muncul dalam literatur teknologi pendidikan beberapa tahun terakhir ini. Yeaman (1994) telah menuliskan dampak dari dekonstruksi dalam teknologi pendidikan. Hlynka (1989, 1991, 1992) juga telah menuliskan beberapa panduan untuk dekonstruksionis. Curtis (1988) telah mendekonstruksi pernyataan visual ketika Magnusson dan Osborne (1990) telah menyajikan dan tertarik pada bacaan-bacaan dekonstruksionis terutama dari konsep pembelajaran berbasis modul. Suchting (1992) juga telah menyajikan dekonstruksi yang cukup hati-hati dari konsepsi berpikir konstruktivis. Analisis Foucauldian sebenarnya juga telah muncul dalam beberapa penelitian teknologi pendidikan. Damarrin (1991) misalnya, telah menggabungkan teori feminis dan teori Foucault ketika McBride telah menyajikan analisis Foucauldian yang sangat berguna untuk diskursus matematika di dalam kelas. Taylor dan Swartz (1991) juga telah mendiskusikan pencabangan dalam teknologi pendidikan kepada pernyataan post-positivis, yaitu ”ilmu pengetahuan tidaklah bebas nilai”.[2]

Kajian-kajian tersebut pada dasarnya telah mencoba untuk mengangkat permasalahan ideologis dan filosofis dalam teknologi pendidikan dengan berbagai perangkat teori-teori sosial kritis-posmodernis. Pada dasarnya upaya tersebut berangkat dari kegelisahan dan permasalahan yang timbul dari penerapan teknologi pendidikan yang selama ini didominasi oleh paradigma positivis-modernis dalam berbagai kasus justru menimbulkan masalah, sebagaimana penerapan dan perkembangan teknologi di dunia industri yang menyebabkan berbagai masalah kemanusiaan. Oleh karena itu diperlukan kajian-kajian dari paradigma lain, yaitu paradigma lain termasuk yang bertentangan dengan paradigma positivis-modernis, antara lain adalah paradigma kritis, feminis, posmodernis, dan lainnya.

Yusufhadi Miarso dalam hal ini menyatakan bahwa teknologi pendidikan mestinya tidak hanya didekati dari paradigma positivis saja, paradigma post-positivistik justru mestinya mendapat perhatian lebih besar dari para teknolog pendidikan yang bermaksud untuk memecahkan masalah yang berhubungan dengan manusia sebagai makhluk yang unik. Lebih lanjut ia menyatakan bahwa teknologi pendidikan hanya dapat diakui sebagai disiplin keilmuan apabila memberikan kemungkinan untuk dilakukannya berbagai macam penelitian yang diselenggarakan dengan pendekatan yang bervariasi sesuai dengan perrkembangan paradigma penelitian –dan/atau keilmuan- yang berkembang. Hasil penelitian tersebut akan menunjang dan memperkokoh teknologi pendidikan sebagai disiplin kelimuan humaniora yang tidak bebas nilai.[3]

Oleh Edi Subkhan, penulis…

[1] Seels, Barbara B & Rita C. Richey, Teknologi Pembelajaran: Definisi dan Kawasannya, terj. Dewi S. Prawiradilaga, Raphael Rahardjo, dan Yusufhadi Miarso, Ikatan Profesi Teknologi Pendidikan Indonesia (IPTPI) bekerjasama denagn Lembaga Pengembangan Teknologi Kinerja (LPTK), Jakarta, 1994 (tahun terbit buku aslinya, sedangkan buku terjemahannya tidak terdapat tahun terbit resminya).

[2] Hlynka, Denis, “Postmodernism”, dalam Jonassen, D.H. (ed), Handbook of Research on Educational Technology, Scholastic Publishing Company, New York, 1994.

[3] Miarso, Yusufhadi, Menyebar Benih Teknologi Pendidikan, Prenada Media Group dan Pustekkom Depdiknas, Jakarta, 2007, hlm. 208-217.

One thought on “Mempertanyakan Kajian Post-Positivisme dalam Teknologi Pendidikan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s