Internet Bukan Obat Segala Penyakit Pendidikan

Penggunaan internet untuk praksis pendidikan di Indonesia berpotensi mengarah pada monokultur, yakni ketika hampir semua orang mengakses informasi dengan menggunakan kata kunci (keywords) tertentu melalui mesin pencari (search engine) Google, yang tentunya akan terjadi kondisi di mana semua orang mendapatkan informasi yang sama. Ini adalah paradoks yang terjadi di tengah hadirnya internet yang menawarkan berjuta keragaman informasi. Monokultur tersebut akan berbuah pada mono-knowledge karena sumber informasi dan pengetahuannya sama (lihat mengenai fenomena “cyberculture” misalnya dalam David Bell, 2001). Dengan pengetahuan yang sama tersebut, maka internet justru menjadi kontraproduktif dengan tujuan digunakannya internet dalam pendidikan.

Namun pada hakikatnya, kecenderungan ke arah monokultur tersebut adalah sebuah lingkaran setan. Karena sebab mulanya adalah keinginan untuk cepat-cepat mendapatkan informasi dan menyelesaikan tugas, dan jalan paling cepat adalah mencarinya melalui Google, dan tiada lain keinginan untuk cepat-cepat tersebut adalah nilai dan kultur yang ditumbuhsuburkan oleh hadirnya internet. Ingat bahwa yang ditawarkan oleh internet paling utama adalah kecepatan akses, baik dalam pengertian teknis maupun akses pengetahuan dan lainnya.

Akibat lain yang seringkali tidak diperhatikan dengan penggunaan ICT dalam praktik pembelajaran adalah: memudahkan dan membudayakan praktik plagiat (plagiarism), budaya instant, dan degradasi sensitivitas sosial siswa. Hal tersebut terjadi karena internet sangat mudah di-copy dan paste oleh siapa saja, dengan sedikit improvisasi, banyak artikel di internet yang didaku sebagai karya sendiri oleh siswa, mahasiswa atau bahkan dosen sekalipun (ingat kasus plagiat oleh dosen dari artikel di media massa). Dengan tawaran kecepatan dalam mengakses informasi terkini, juga keluasan jangkauannya, maka internet menjadikan kecepatan (speed) sebagai sebuah keniscayaan kultural (lihat David Bell, 2001 & Yasraf Amir Piliang, 2004).

Semua orang sekarang menginginkan kecepatan dalam menyelesaikan semua hal, termasuk siswa dan mahasiswa dalam mengerjakan tugas-tugasnya, dan ternyata internet memfasilitasinya dengan baik. Di sinilah awal mula hilangnya sebuah proses yang intensif dan bermakna dalam membuat dan menyelesaikan tugas, semuanya diselesaikan secara instant (Yasraf Amir Piliang, 2004). Ironisnya hampir semua orang menikmati hal tersebut. Bukan maksud saya untuk menolak internet dalam memfasilitasi proses pembelajaran, namun yang perlu diperhatikan lebih serus adalah jangan sampai proses belajar dan pengerjaan tugas kuliah misalnya, menjadi sama sekali tidak bermakna karena semuanya telah disediakan oleh teknologi internet. Pada akhirnyan nanti akan terjadi ketergantungan dan “kecanduan internet” (internet addict), yakni sebuah kondisi di mana seseorang tidak dapat beraktivitas tanpa bantuan internet. Manusia seakan sudah bersatu dengan teknologi, menjadi sebentuk apa yang diungkapkan oleh Harraway (1991) sebagai “cyborg“, di mana teknologi dan manusia tidak dapat lagi dipisahkan.

Hal lain adalah: internet seringkali menimbulkan problem psikologis dan sosial. Misalnya dengan melihat praktik pembelajaran di internet, kemudahan yang ditawarkan, maka siswa-siswa seringkali menjadi lebih merasa nyaman dengan dunia internet ketimbang dunia kehidupan nyata mereka sehari-hari. Mereka menjadi “autis” dalam interaksi keseharian. Mereka menjadi lebih merasa memiliki ikatan emosional dengan tema-teman mereka di jejaring pertemanan Facebook misalnya, ketimbang dengan tetangga dan masyarakat tempat mereka tinggal. Dengan kata lain, mereka kemudian berjarak dengan realita sosio-kultural yang terjadi di sekitar mereka. Hal-hal itulah yang seringkali tidak banyak diperhatikan oleh para pendidik dalam pertimbangan dan praktik pembelajaran berbasis ICT, terutama internet.

Internet memang potensial sebagai media fasilitas yang dapat membantu memperluas akses dan kualitas pendidikan. Namun ternyata banyak hal juga yang harus diperhatikan secara lebih serius dengan perhitungan keuntungan dan kerugian ketika menggunakan ICT sebagai basis pembelajaran dalam konteks sosial tertentu, termasuk juga memperhatikan nilai-nilai dan kultur yang dibawa oleh ICT itu sendiri. Jadi, pertanyaan yang lebih penting untuk didiskusikan lebih lanjut adalah: tidak peduli betapa cepat dan banyak informasi bisa diakses via internet, namun yang lebih penting adalah informasi apakah itu? Nilai-nilai, kultur dan ideologi apakah yang diakses tersebut? Pengetahuan apakah yang dipelajari, pribadi macam apakah yang terbentuk setelah mengkonsumsi informasi-informasi dan pengetahuan via internet tersebut?

Dengan kata lain, ada banyak hal yang harus dipertimbangkan dalam pembelajaran berbasis ICT. Beberapa tujuan pendidikan pada kenyataannya tidak dapat dibelajarkan melalui ICT, baik internet maupun multimedia lainnya. Upaya untuk penanaman karakter siswa yang memiliki sensitivitas sosial yang tinggi terhadap lingkungannya, antikorupsi, antikekerasan, kejujuran dan lainnya tidak dapat dibelajarkan secara optimal melalui ICT. Melainkan akan lebih baik ketika dibelajarkan dengan cara pelibatan sosial dalam konteks sosio-kultural yang riil di masyarakat. Justru terdapat beberapa nilai-nilai yang tergerus oleh datangnya ICT dalam praktik pendidikan kita, lebih dari itu juga ICT turut menumbuhsuburkan nilai-nilai dan praktik kultural yang kurang baik (plagiat misalnya). Hal-hal itulah yang harus diwaspadai.

Pada level yang lebih teknis, kita sudah dapat melihat beberapa kendala dari sistem penerimaan siswa baru secara online tidak mampu membendung memludaknya para pendaftar, dengan kata lain overload (Sinar Harapan,7/7/10). Praktik digitalisasi adiministrasi kampus beberapa universitas pun bukannya sepi dari kendala, karena jelas teknologi digerakkan oleh logika teknologis yang anti-dialog, terprogram, dan non-human, hingga memang menutup praktik interaksi sosial yang lebih humanis. Banyak mahasiswa dirugikan karena nilai tidak masuk, salah tabulasi nilai, dan lainnya. Oleh karena itu, ICT memang harus ditempatkan sebagaimana mestinya sebagai teknologi untuk membantu praktik pembelajaran, teknologi bukan panacea, obat segala penyakit pendidikan. Tidak ada satu resep tunggal yang dapat mengatasi penyakit segala (baca: kendala, masalah) pendidikan di Indonesia sekarang ini.

 

(Notes ini hanyalah kutipan pendek dari catatan panjang saya tentang Kajian dan Praksis Teknologi Pendidikan Perspektif Kritis di Indonesia, terutama dalam sub-bidang Kajian Cybereducation yang sebenarnya semua orang juga tahu, jadi tidak istimewa, so “jangan dan tidak usah dikutip” hehehe…guyon dink!!)

4 thoughts on “Internet Bukan Obat Segala Penyakit Pendidikan

  1. Howdy I am so grateful I found your web site, I really found you by error, while I was researching on Google for something else, Regardless I
    am here now and would just like to say cheers for a fantastic post and a all
    round interesting blog (I also love the theme/design), I don’t have time to go through it all at the moment but I have book-marked it and also included your RSS feeds, so when I have time I will be back to read more, Please do keep up the superb job.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s