Merebut Teknologi Pendidikan dari Nalar Pragmatis (2)

Dasar Perlunya Teknologi Pendidikan

Alasan yang lebih fundamental mengenai diperlukannya TP, di samping realitas tersebut, dapat dilihat dari penelusuran historis awal berdiri dan diakuinya teknologi pendidikan sebagai sebuah bidang kajian dan praksis.[1] Ilmu pendidikan bertumpu pada landasan ilmu-ilmu humaniora, seperti sosiologi, komunikasi, psikologi, dan lainnya—tentu filsafat termasuk di dalamnya. Sebagai sebuah praksis pendidikan, ilmu pendidikan dalam perkembangannya tidak dapat tidak harus berhadapan dengan serangkaian masalah—yang jika dilihat dari perspektif disiplin keilmuan—berkaitan dengan beragam ranah keilmuan dasar, seperti sosiologi, psikologi, dan lainnya tersebut. Hal ini tidak dapat dihindari karena praksis pendidikan memang selalu berkaitan dengan semua bidang kehidupan dan ranah keilmuan tersebut. Salah satu perkembangan “terbaru” dalam pendidikan adalah penggunaan teknologi sebagai upaya untuk memfasilitasi dan meningkatkan capaian tujuan belajar (Januszewski & Molenda [eds.], 2008: 82-101; Somekh, 2007: 91-108).[2]

Dalam praksis pelaksanaan penggunaan teknologi untuk pembelajaran tersebut, TP menggaet dan menggunakan berbagai perangkat paradigma keilmuan yang berkembang dalam ranah disiplin psikologi, sosiologi, ekonomi, budaya, termasuk pendidikan (pedagogy) itu sendiri (lihat Januszewski & Molenda [eds.], 2008: 69-77; Miarso, 2007: 102-121). Sebagai sebuah ranah kajian dan praksis, TP tumbuh dan berkembang seiring dengan munculnya banyak masalah dalam ranah kajian dan praksis TP itu sendiri, antara lain adalah: ketimpangan sosial antara siswa kaya yang menggunakan internet dan yang tidak, bahkan juga antara siswa dan guru yang minim akses internet (Republika, 6/11/09), konsumsi pornografi oleh siswa dalam belajar via internet yang susah ditangkal (Republika, 28/12/07), suburnya praktik plagiat (Republika, 11/1/09) dan lainnya.

Di sinilah masalah tersebut membutuhkan kajian serius untuk menanganinya hingga memerlukan paradigma dari disiplin ilmu yang sudah mapan. Di sinilah, interdispilinaritas, multidisiplinaritas dan transdisiplinaritas antara kajian teknologi, pendidikan, sosiologi, psikologi, filsafat, budaya dan lainnya adalah suatu hal yang tak terhindarkan (Semiawan, 2008).[3] Hal itu terjadi karena masalah-masalah tersebut hadir dalam konteks sosial yang kompleks terdiri dari berbagai ranah sosial, budaya, politik dan lainnya. Masalah-masalah itu pun tidak muncul hanya oleh satu sebab atau satu variabel yang kemudian dapat dipandang dari satu paradigma keilmuan saja. Lebih dari itu, masalah-masalah tersebut muncul karena banyak sebab dan oleh karenanya tidak dapat tidak, harus dikaji dan diselesaikan dengan menggunakan banyak paradigma keilmuan yang ada.

Oleh karena itu, mutlak hal yang harus dikuasai dalam mengimplementasikan teknologi dalam pendidikan tidak sekadar paham teknologi dan pedagogi, tetapi juga harus paham seluk beluk filsafat, sosiologi, psikologi, budaya, kurikulum, kebijakan, politik, ekonomi, dan lainnya. Sejauh yang dapat dicapai oleh guru-guru di sekolah sekarang ini, akan teramat susah untuk dapat memiliki pra-syarat dasar penguasaan keilmuan tersebut dalam implementasi teknologi dalam pendidikan.[4] Di sinilah dibutuhkan satu kajian khusus yang kemudian disebut sebagai teknologi pendidikan yang mengkaji secara khusus mengenai teknologi pendidikan, lengkap dengan berbagai dasar inter, trans, dan multidisiplinaritas keilmuan tersebut.

Seorang yang telah menerjunkan diri dalam teknologi pendidikan dengan demikian memiliki kewajiban untuk mengkaji secara serius, mendalam, dan meluas mengenai teknologi pendidikan (Miarso, 2007: 2-99). “Mendalam” dalam arti mengkaji satu masalah secara serius sampai pada akar masalah (filosofi dan ideologinya) dan “meluas” merambah pada berbagai masalah sosial, psikologi, etika, moral dan budaya yang ditimbulkan oleh implementasi teknologi pendidikan. Dengan demikian, sebagai sebuah kajian dan praksis, TP dibutuhkan; demikian juga dengan para ahli TP dengan jurusan dan program studi TP-nya. Sebagai sub-set kajian pendidikan (educational studies), TP secara lebih spesifik juga mengkaji satu bidang garapan yang untuk sekarang dan masa-masa yang akan datang menjadi perhatian dan fokus dari perkembangan pendidikan dalam skala global, yakni Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) yang potensial dalam memfasilitasi proses pendidikan (Januszewski & Molenda [eds.], 2008: 9).

Dasar alasan perlunya TP tersebut di atas sebenarnya sudah cukup sebagai argumentasi untuk mengembalikan TP pada hakikat kejadiannya semula. Bahwa TP, jurusan TP dan lulusannya bukanlah seperti seorang lulusan jurusan komputer, teknik elektro, atau broadcaster yang menguasai urusan-urusan teknis dan teknologi saja. Lebih dari itu, jurusan TP dan lulusannya juga menguasai dasar dan ranah keilmuan lain yang terkait dengan keberadaan dan implementasi teknologi dalam pendidikan. Kelebihan TP adalah ia menguasai “pedagogi” sebagai syarat utama bagi seseorang yang berniat mendidik secara profesional.[5] Dengan demikian agaknya dapat dikatakan bahwa lulusan jurusan elektro, komputer, dan sejenisnya tidak cukup layak untuk menjalankan fungsi dan peran dalam mengkaji dan mengimplementasikan teknologi dalam pendidikan secara mendalam dan luas, karena dalam perkuliahan mereka memang tidak mendapatkan materi pedagogi secara mantap.[6]

Miss,” “Over” dan Reduksi Teknologi Pendidikan

Kembali pada kekhawatiran di depan mengenai tidak jelasnya peluang kerja bagi lulusan TP ketika akan dibuka jurusan pendidikan TIK, maka agaknya jelas terjadi “miss,” “over” dan reduksi pemahaman mengenai TP yang berimbas pada biasnya pemahaman mengenai apa yang menjadi tugas atau pekerjaan lulusan jurusan TP. Pertama, terjadi “miss” dan “over” pemahaman dan harapan terhadap TP sebagai disiplin keilmuan; dan kedua, reduksi karena tuntutan pragmatis dunia kerja modern. Pada sebab pertama kita dapat melihat dari banyak paparan panjang yang berupaya untuk membangun landasan filosofis (ontologi, epistemologi, dan aksiologi) TP sebagai sebuah “disiplin keilmuan”. Harapan tersebut tampaknya terlalu berlebihan, Yusufhadi Miarso (2007: 110-111) sendiri menyatakan bahwa:

Sebagai suatu spesialisasi dari ilmu pendidikan, memang mungkin teknologi pendidikan belum merupakan suatu disiplin ilmiah, karena masih terbatasnya teori yang dihasilkan yang mempunyai kemampuan generalisasi dan prediksi atas gejala yang diamatinya. Banyak teori-teori yang berasal dari disiplin keilmuan lain yang dipinjam dan diramu menjadi teori baru.

Namun dari penyataan tersebut tetap terlihat adanya harapan TP dapat menjadi sebuah disiplin ilmu yang mapan dalam pengertian positivistik.[7] Konsentrasi yang terlalu banyak pada upaya membangun sebuah disiplin ilmu tersebut pada akhirnya berakibat pada tidak dilihatnya secara utuh TP sebagai sebuah bidang kajian yang terbentuk atau mengambil perspektif dan pendekatan dari bidang keilmuan lain. TP kemudian terlihat menjadi arogan sebagai bidang kajian yang kaku, karena terbatasi oleh keinginannya sendiri untuk menjadi disiplin ilmu. TP dalam praksisnya kemudian menjadi tidak produktif dan tidak banyak bisa menyelesaikan problem pendidikan di mana media pembelajaran di gunakan. [8]

Sikap “kaku” dan “tertutupnya” TP tersebut pada akhirnya juga menafikan keberadaan paradigma, ideologi dan hakikat filosofis TP itu sendiri di tengah bidang kajian dan keilmuan, juga di tengah realitas dan konteks sosio-kultural. Keinginan untuk menjadi dispilin ilmu dalam pengertian positivistik tersebut menjadikan TP memandang dan memahami dirinya lepas dari konteks sosio-kulturalnya. TP kemudian kering kesadaran ideologis dan paradigmatiknya, karena TP menjadi tidak sensitif terhadap konteks sosio-kultural sekitarnya. Beberapa fenomena dan masalah yang terjadi dalam dunia pendidikan tertentu kemudian dijauhi untuk tidak dikaji dengan dalih untuk menjaga TP sebagai sebuah “disiplin ilmu”. Dalam upaya menjadi “disiplin ilmu” tersebut TP telah terjebak pada nalar pengkotak-kotakan ilmu pengetahuan a la positivisme yang sebenarnya justru kontraproduktif dengan tujuan ilmu pengetahuan itu sendiri untuk membenahi kondisi sosio-kultural masyarakat yang kompleks (lihat Lincoln & Guba, 1985: 36-38).

Inilah yang disebut sebagai “miss” dan “over” pemahaman terhadap TP, yakni salah paham (misunderstanding) dan harapan yang berlebihan (over-expectation) terhadap TP untuk menjadi disiplin keilmuan yang mapan. Hal tersebut terjadi karena memang basis paradigma TP mulanya memang positivisme (Burton, et al, 1996: 46-65), pun ketika masuk ke Indonesia tahun 1960-an, ilmu pendidikan di Indonesia masih begitu kuat didominasi oleh paradigma positivistik dan teori belajar behavioristik. Sampai akhir tahun 1990-an hegemoni paradigma positivisme dalam ilmu pengetahuan di Indonesia belum dapat digeser oleh paradigma naturalistik, fenomenologi, kritis, apalagi posmodernis. Akibatnya, pengkotak-kotakan ilmu pengetahuan tetap terjadi dan obsesi untuk menjadi disiplin ilmu tetap terjaga. Selain itu para dosen di kampus kependidikan kemudian juga tidak banyak berkembang pemahaman mereka dalam paradigma ilmu pengetahuan.

Tidak banyak literatur yang berparadigma selain positivistik masuk dan beredar di rak-rak perpustakaan kampus-kampus kependidikan sampai akhir tahun 1990-an. Pada beberapa jurusan TP di kampus-kampus kependidikan (terutama kampus eks IKIP) sampai sekarang bahkan dapat dikatakan belum banyak terdapat literatur yang memadai mengenai TP, baik yang fundamental mengenai paradigma pengetahuan maupun isu-isu kontemporer.[9] Kemampuan dosen jurusan TP dalam menjabarkan mengenai fondasional TP pun di bawah rata-rata, karena mereka juga rata-rata lulusan dari TP di dalam negeri. Jika dilihat secara historis, hal tersebut dapat dipahami, karena mereka berasal dari jurusan Jurusan Didaktik dan Kurikulum dan sejenisnya yang kemudian bermetamorfosis menjadi jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (KTP) atau Teknologi Pendidikan (TP) saja.[10]

Sebenarnya keberadaan “kurikulum” pada jurusan TP (misalnya di Unnes disebut jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan) membawa sedikit “keberuntungan,” karena membawa pengertian TP pada perspektif yang relatif “meluas” sampai pada kajian kurikulum. Namun pada perkembangan selanjutnya, ketika beberapa jurusan KTP hendak menjadi jurusan TP saja, maka perpsektifnya TP justru menjadi sempit dalam pengertian TIK saja.[11] Hal tersebut tentu sangat ironis dan berbahaya.

Pada kenyataannya, baik pada jurusan KTP maupun TP, mata kuliah yang diberikan belum dapat terintegrasikan dalam satu bentuk kurikulum yang betul-betul mampu menopang TP, hingga belum dapat memberikan pemahaman yang benar tentang TP serta mampu membekali mahasiswa dengan kemampuan kajian dan implementasi TP yang lengkap. Mata kuliah filsafat misalnya, seringkali terputus dari upaya untuk mengkaji “teknologi” dan “pendidikan” dan “teknologi pendidikan” itu sendiri secara filosofis. Justru seakan pembelajaran filsafat masih berasyik-masyuk dengan dirinya sendiri hingga tidak mampu menjadi penopang dan fondasi keilmuan TP secara fundamental. Mata kuliah sosiologi pendidikan juga merupakan contoh lain: ia diberikan seolah-olah terpisah dari praksis TP dalam konteks sosio-historis, dan menjadi mata kuliah yang diajarkan tersendiri entah sebagai apa. Demikian juga dengan mata kuliah psikologi.[12]

Disintegrasi antarmata kuliah tersebut sebenarnya wajar terjadi, karena dosen-dosennya—walaupun ahli dalam filsafat dan sosiologi pendidikan misalnya—relatif tidak memiliki pemahaman yang mendalam dan komprehensif tentang TP, hingga tidak dapat dengan tepat membahas dan mengaitkan filsafat, sosiologi, psikologi dan mata kuliah lainnya dalam kajian dan praksis TP. Agaknya masing-masing dosen mata kuliah tersebut sekadar ahli dalam bidangnya masing-masing, namun tidak dapat menangkap dan memahami substansi TP secara tepat. Dalam praktiknya, sebelum proses perkuliahan dimulai, tidak banyak diulas mengenai kaitan masing-masing mata kuliah tersebut dengan kajian dan praksis TP secara tepat dan jelas. Proses pembelajaran terlihat bergerak sendiri-sendiri, partikular dan tidak berujung pada substansi TP yang jelas dan tepat. Di sisi lain, pada jenjang pendidikan S2 dan S3 TP di Indonesia pun tidak banyak berbeda dengan jenjang S1 TP dilihat dari mata kuliah yang diberikan, tugas kuliah, fokus kajian dan kedalaman bahasan.[13]

Akhirnya, TP di kampus dan dalam pemahaman rata-rata dosen yang mengajar di jurusan TP direduksi sekadar sebagai “bidang pekerjaan,” yakni: pekerjaan menggunakan teknologi dalam membantu proses pembelajaran lebih baik. Jadi, kalau ada komputer rusak di lab. Sekolah misalnya, maka lulusan TP dipanggil untuk memperbaikinya. Namun ketika terjadi masalah etika dan konflik pada siswa karena penggunaan internet dalam pembelajaran, maka yang dipanggil adalah guru Bimbingan Konseling (BK) atau guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), bukan lulusan TP.[14] Fenomena cyber bullying (lihat Kowalski, et al, 2008) misalnya, adalah masalah yang melibatkan para ahli TP di sekolah dalam penanganannya beserta guru-guru lain, karena ahli TP-lah yang sebenarnya paling tahu mengenai mekanisme operasional dunia cyber.

Kasus-kasus tidak dilibatkannya ahli TP di sekolah dalam mengatasi masalah-masalah yang berkaitan dengan media pembelajaran (internet, televisi, ebook dan lainnya) agaknya terjadi lebih karena ketidaktahuan guru dan sekolah mengenai kualifikasi atau “job desk” lulusan TP dalam sebuah institusi pendidikan (sekolah, kampus, dan lainnya). Padahal dalam definisi TP yang dirilis oleh Association for Educational Communication and Technology (AECT), “etika” (ethics) mendapatkan penekanan utama dalam kajian dan praksis TP (Januszewski & Molenda [eds.], 2008: 1).[15]

Educational technology is the study and ethical pratice of facilitating learning and improving performance by creating, using, and managing aprropriate technological processes and resources.

Dalam definisi TP dari AECT yang disepakati pada tahun 2004 tersebut dinyatakan bahwa TP adalah kajian (study) dan praktik etis (ethical practice) dalam memfasilitasi pembelajaran. Selain itu agaknya masyarakat awam, bahkan termasuk para guru dan dosen relatif menganggap teknologi hanya sebagai alat-alat elektronik, terutama komputer; sedangkan cara, strategi, metode, pendekatan, manajemen, dan sejenisnya tidak dianggap sebagai teknologi. Intinya adalah: teknologi berbentuk barang fisik yang canggih, yang bukan barang fisik tidak dapat disebut sebagai teknologi. Inilah pemahaman yang kurang tepat namun sudah kaprah di masyarakat kita sampai sekarang.

 

Pragmatisme Dunia Kerja

Selain ketidakjelasan pemahaman tentang TP yang dibawakan oleh dosen-dosen TP sendiri, reduksi TP juga terjadi akibat dari tuntutan dan desakan pragmatisme dunia kerja. Dalam tatanan masyarakat modern sekarang ini, seakan semua perputaran kehidupan bermuara pada akumulasi kapital. Begitu pula dengan pendidikan, seakan semua praksis pendidikan tujuan utamanya adalah dalam rangka untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus, sebagai sarana mengeruk kekayaan dan kebahagiaan. Terlebih lagi ketika institusi pendidikan tersebut sudah menjadi bagian dari institusi neo-liberal yang bertugas memasok tenaga siap pakai untuk ditempatkan dalam posisi dan profesi yang ada dalam tatanan modernitas (Giroux, 2005; Apple, 2004; Tilaar, 2009; Darmaningtyas, et al., 2009; Torres, 2009). Tampaknya sebagian besar masyarakat pun mengiyakan perspektif tersebut. Ketika anak-anak mereka masuk kuliah, doa mereka adalah: semoga dapat masuk di kampus bonafide dengan jurusan yang bagus dan prestise, hingga nanti setelah lulus dapat menempati posisi kerja yang bagus.

Begitu juga rata-rata yang terjadi dengan mahasiswa jurusan TP. Terang ketika masuk jurusan TP, mereka ingin mendapatkan bekal memadai untuk dapat bekerja sesuai dengan bidang dan apa yang dipelajarinya. Walaupun mesti diakui ada banyak mahasiswa yang masuk TP “tanpa sengaja.” Dalam hal ini dapat diartikan bahwa sebenarnya jurusan TP—bagi mereka yang “tanpa sengaja” tersebut—merupakan pilihan kesekian setelah jurusan lain, namun ketika telah berada di dalamnya mereka tetap mengharapkan kejelasan bidang kerja mereka.[16] Tidak seperti pendidikan kedinasan yang memberikan kejelasan posisi kerja setelah lulus (seperti: pendidikan kepolisian, perpajakan, militer), kampus nonpendidikan kedinasan tidak memiliki kewajiban yang ketat dalam memberikan kepastian kerja. Namun, bukan berarti kampus dapat lepas tanggung jawab begitu saja, karena bagaimana pun juga kualitas pendidikan dan alumni sebuah kampus secara umum salah satunya ditunjukkan dengan tingkat penerimaan dunia kerja terhadap mereka.

Di sinilah, jurusan TP juga dituntut untuk memberikan kepastian kerja kepada mahasiswanya sesuai dengan bidang keahlian yang telah mereka pelajari di perkuliahan. Secara pragmatis, beberapa jurusan TP pun akhirnya mengambil langkah praktis dengan mendasarkan perkuliahannya pada kebutuhan dunia kerja, yang secara otomatis sebenarnya menafikan hakikat filosofis TP itu sendiri. Ketika hampir semua sendi kehidupan manusia sekarang ditopang dan membutuhkan TIK, mulai dari aktivitas pekerjaan, pendidikan, belajar sampai hobi dan hiburan semuanya membutuhkan TIK (lihat Lister, et al, 2009), maka para mahasiswa dan dosen jurusan TP pun menjadikan TIK tersebut sebagai sebuah “harapan baru”. Harapan baru dalam arti TIK sangat potensial untuk menjadi bidang garapan bagi TP, yakni dalam memfasilitasi proses pembelajaran dan pendidikan secara umum. Akhirnya beberapa jurusan TP mengambil langkah untuk memfokuskan perkuliahan dan kajiannya pada TIK, dengan kata lain TP kemudian direduksi menjadi sekadar TIK saja.

Langkah tersebut agaknya dapat dipahami ketika mendapati kenyataan—sebagaimana dikemukakan di depan—bahwa TP sebagai sebuah kajian dan praksis serta profesi kependidikan, ternyata tidak banyak diketahui atau bahkan tidak diakui oleh khalayak maupun institusi pendidikan sendiri, hingga menjadi kegelisahan mahasiswa TP mengenai ketidakjelasan masa depan mereka setelah lulus. Dengan tanggung jawab memberikan kejelasan pekerjaan yang dipikul oleh jurusan TP, maka jurusan TP memilih fokus pada TIK. Harapannya adalah agar mahasiswanya nanti dapat bekerja sebagai tenaga yang ahli dalam bidang TIK yang sedang menjadi tren dan dibutuhkan masyarakat.[17] Tuntutan tanggung jawab jurusan dan kebutuhan pasar akan TIK tampak begitu kuat tarikannya dalam pengambilan keputusan orientasi jurusan TP tersebut. Dalam hal ini jelas bahwa pragmatisme pasar dan kerja lebih dipentingkan ketimbang substansi dasar pendidikan itu sendiri.

Masalah yang timbul adalah ketika melihat realita tren pembelajaran TIK di Indonesia sekarang ini sekadar menekankan pada penggunaan saja, tanpa mengaitkan dengan dimensi sosial, budaya, ekonomi, dan lainnya. Hal tersebut dapat dilihat pada fenomena pembelajaran berbasis TIK yang marak sekarang ini, baik siswa, mahasiswa, guru dan dosen lebih banyak sebagai pengguna dan pengkonsumsi berbagai produk TIK saja. Lebih banyak menggunakan produk multimedia, games edukatif, internet dan lingkungan virtual yang terdapat di dalamnya saja. Sedangkan beberapa produksi TIK dalam bentuk multimedia, games edukatif, website dan lainnya relatif masih sederhana dan agaknya tidak banyak menggunakan pertimbangan paradigma ilmu sosial, budaya, psikologi, seni, pedagogi dan lainnya secara mendalam.[18]

Selain itu, baik penggunaan maupun produksi TIK untuk pendidikan tersebut rata-rata juga tidak dikaji secara serius dari berbagai perspektif paradigmatik. Padahal TP sebagai sebuah kajian dan praksis bukanlah sekadar mengenai teknik penggunaan produk TIK saja, melainkan berkaitan dengan ranah kajian keilmuan yang lintas, inter, dan multidisiplin. Di samping itu, TP juga berkaitan dengan ranah kehidupan yang kompleks dalam praksis implementasinya. Dengan demikian, ketika TP direduksi menjadi TIK akhirnya menjadikan TP sebagai bidang teknis yang makin kering diskursus intelektualnya. Ketika implementasi TIK dalam pendidikan sekadar penggunaannya saja (jarang dilakukan riset mendalam dan luas tentang desain, impelementasi, dan evaluasi pembelajaran TIK di pendidikan), maka kira-kira begitu juga yang dipelajari oleh mahasiswa TP dalam perkuiahan pada jurusan TP yang telah direduksi menjadi TIK tersebut.

Dengan kata lain, karena mengikut tren yang lebih banyak pada penggunaanya saja tersebut, maka yang dipelajari pun sekadar implementasinya saja. Pada akhirnya tidak ada bedanya antara mahasiswa jurusan komputer, desain grafis, dengan jurusan TP, bahkan mereka lebih jago dalam desain TIK ketimbang mahasiswa TP, karena walau fokus ke TIK sedikit banyak tetap mempelajari materi pendidikan juga. Di sinilah, ketika mengikuti tren pasar akhirnya menjadikan jurusan TP kalah bersaing dengan jurusan lainnya yang memang lebih kompeten dalam bidang TIK seperti jurusan informatika dan komputer. Selain itu juga jelas mengakibatkan tidak dikajinya secara serius dan mendalam ranah kajian dan praksis TP itu sendiri. Pragmatisme dunia kerja telah ikut memberi andil bagi runtuhnya TP baik sebagai sub-bidang kajian dalam pendidikan, sebagai bidang kajian dan praksis, maupun sebagai sebuah profesi kependidikan.


[1] Dalam paper ini TP lebih didefinisikan sebagai ranah kajian dan praksis. Praksis (praxis) adalah terminologi dalam tradisi pemikiran Marxian yang dikemukakan oleh Gramsci (1971) dalam Selections from the Prison Notebooks, yang diartikan lebih-kurang sebagai bentuk penyatuan antara gagasan atau ide-ide dan aksi-aksi nyata di masyarakat dan saling terkait dengan banyak hal. Dengan begitu, maksud TP sebagai praksis adalah menjadikan kajian TP tidak sekadar sebagai sebuah gagasan, ide, dan konsep yang berada pada tataran intelektual saja, melainkan juga menjadi sebuah praktik yang meluas berkaitan dengan konteks sosio-kultural sekitar.

[2] “Terbaru” dalam hal ini diartikan sebagai “diperhatikan” secara serius, “dikaji” secara serius dan lebih spesifik dibandingkan sebelumnya. Sejak tahun 1920-an ketika radio muncul, kemudian film, yang disusul dengan televisi, teknologi dalam bentuk media komunikasi dan informasi tersebut mendapat perhatian serius dari dunia pendidikan karena potensinya sebagai media yang dapat membantu proses pembelajaran menjadi lebih baik. Tahun 2000-an sampai sekarang bahkan teknologi informasi dan komunikasi menjadi andalan utama dalam meningkatkan kualitas dan akses pendidikan.

[3] Lihat Conny R. Semiawan, Pendekatan Transdisiplinaritas Ilmu dalam Dunia Pendidikan, paper disampaikan dalam Kongres IPTPI, Jakarta: 28 Agustus 2008, di Aula Perpustakaan Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

[4] Pesimisme ini mengemuka karena banyaknya indikator rendahnya minat intelektual guru, termasuk kualitas guru, lihat saja dalam kasus sertifikasi di Riau yg diindikasi sebagai plagiat. Lihat ulasan Drajat, “Plagiarisme dan Kenaikan Pangkat.” Kompas. Jakarta: 18 Februari 2010. Selain itu, di lapangan akan sangat mudah kita jumpai guru yang tidak memiliki minat baca tinggi, baik karena memang dia tidak berminat maupun karena kendala tidak dapat membeli buku dan mengakses internet.

[5] Lihat juga ketentuan pada Peraturan Pemerintah No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP) pada Bab VI pasal 28 ayat (3) bahwa, “Kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini meliputi: a. Kompetensi pedagogik; b. Kompetensi kepribadian; c. Kompetensi profesional; dan d. Kompetensi sosial.

[6] Pada jurusan yang murni teknik, elektro, komputer, broadcast dan sejenisnya memang tidak diajarkan mengenai pedagogi, walaupun menjadi bagian dari universitas eks Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP).

[7] Istilah “generalisasi” dan “prediksi” adalah termasuk kata kunci yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi apakah sesuatu tersebut dilihat dari kerangka paradigma positivisme atau tidak. Lebih jauh lihat misalnya Yvonna S. Lincoln & Egon G. Guba, Naturalistic Inquiry, London: Sage Publication, 1985, hlm. 110-119 & 183-184.

[8] Lihat misalnya perpustakaan di Pascasarjana UNJ, atau di Pustekkom sebagai bidang praksis TP secara resmi di Indonesia. Ternyata memang belum banyak literatur yang mengkaji praksis TP berkaitan dengan konteks sosial, kultural, dan politik. Lebih banyak literatur yang membahas teknis-metodologis aplikasi TP saja (tips-tips desain, produksi, implementasi dan evaluasi TP). Kerangka peradigmatik yang tidak kuat juga dapat dilihat pada beberapa hasil riset skripsi, tesis dan disertasi mahasiswa TP di banyak jurusan TP di Indonesia.

[9] Lihat di perpustakaan pascasarjana Universitas Negeri Jakarta (UNJ) misalnya, tidak banyak buku isu-isu terkini kajian Teknologi Pendidikan.

[10] Jurusan Didaktik yang menjadi embrio jurusan TP dihapuskan karena Sekolah Pendidikan Guru (SPG) juga dihapuskan, sebelumnya alumni Jurusan Didaktik bidang kerjanya adalah mengajar di SPG. Oleh karenanya pada beberapa kampus, misalnya Unnes, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Negeri Malang (UNM], Universitas Negeri Padang (UNP] dan lainnya, jurusan TP disebut sebagai jurusan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (KTP). Dapat dilihat pada sejarah masing-masing jurusan tersebut.

[11] Di Unnes program studinya pada S1 disebut Kurikulum dan Teknologi Pendidikan (KTP), namun jurusannya adalah Teknologi Pendidikan (dapat dilihat pada brosur dan dokumen jurusannya). Di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) jurusannya tetap Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, namun terdapat spesialisasi, yaitu Program Pengembangan Kurikulum dan Teknologi Pendidikan, namun karena Program Pengembangan Kurikulum dihapus, sekarang tinggal program TP, lihat di  http://kurtek.upi.edu/e-learning1/?page=sejarah.html (diunduh pada 20 Maret 2010).

[12] Berdasakan observasi dan pengalaman penulis selama menjadi mahasiswa S1 TP di Universitas Negeri Semarang (Unnes) dan S2 TP di Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

[13] Lihat misalnya kurikulum pada Jurusan TP S1 di Unnes, dapat diakses melalui http://teknodik.unnes.ac.id/ dan http://teknodik.net/. Hal itu agaknya lagi-lagi karena belum terdapat pemahaman yang mendalam dan sekaligus luas mengenai TP, bahkan entah kenapa lulusan dari luar pun pada akhirnya gagal untuk menerjemahkannya dalam konteks TP di Indonesia, walaupun tentu tidak semuanya begitu.

[14] Hal ini sudah umum dialami oleh mahasiswa TP yang melakukan Praktik Pengalaman Lapangan (PPL) di sekolah-sekolah atau guru TIK yang berasal dari TP dan sudah mengajar di sekolah-sekolah (berdasarkan pada penuturan beberapa mahasiswa TP yang sedang PPL dan guru alumni TP di beberapa sekolah).

[15] AECT merupakan satu organisasi para ahli TP internasional yang bermarkas di Amerika. Paradigma TP sampai sekarang tampanya masih menjadi mainstream dalam kajian dan praksis TP di banyak tempat, termasuk di Indonesia. Dapat dilihat dari banyak buku rujukan perkuliahan yang diberikan pada mahasiswa berasal dari ahli TP lingkaran AECT.

[16] Hasil observasi dan penuturan beberapa mahasiswa S1 TP semester awal di Semarang (Unnes) dan Jakarta (UNJ) pada akhir 2009.

[17] Hasil wawancara dengan beberapa mahasiswa dan dosen TP Unnes pada akhir 2009.

[18] Lihat misalnya booming para guru membuat weblog atau web personal, rata-rata weblog yang dimiliki oleh para guru tersebut relatif sederhana. Intinya mereka sekadar membuat web personal yang sekiranya dapat digunakan sebagai media interaksi dengan siswa dan sesama guru, tanpa banyak memikirkan efek psikologis dan sosio-kulturalnya.

12 thoughts on “Merebut Teknologi Pendidikan dari Nalar Pragmatis (2)

  1. Waw EXCELLENT banget ulasan artikelnya!!! semakin menambah wawasan, yes i agree mas ed, Kl TP belum bisa diakui profesinya dr ranah kebijakan, kita2 ini yg alumni TP yg ‘sudah ngeh’ mesti bergerilya dl dengan pengetahuan, kemampuan, keterampilan n attitude yg sesuai dgn Epistemologi TP…supaya TP semakin dikenal luar karena aktualisasi diri kita yg sesuai dengan konsentrasi TPnya (kl di S1 TP UNJ ada pengembangan media pembelajaran, pengelolaan sistem pemb n teknologi kinerja) mau lintas konsentrasi jg gak masalah yg penting AKTUALISASI DIRINYA YO… teruslah berbagi mas, saya ikut belajar yooo:))

  2. Hello, I do think your web site could be having
    web browser compatibility problems. Whenever I take a look
    at your site in Safari, it looks fine however when opening in IE, it has some overlapping
    issues. I merely wanted to give you a quick heads up!
    Other than that, excellent website!

  3. Simply want to say your article is as surprising. The clearness to your post is simply spectacular
    and that i could think you are a professional
    on this subject. Fine along with your permission allow
    me to snatch your feed to keep updated with imminent post.
    Thanks 1,000,000 and please carry on the enjoyable work.

  4. whoah this weblog is great i love studying your posts.
    Stay up the good work! You understand, lots of individuals are looking around for this information, you could help them greatly.

  5. Right here is the perfect webpage for anybody who wishes to understand this topic.
    You realize so much its almost tough to argue with you (not that I personally would want to…HaHa).

    You definitely put a new spin on a subject that’s been written about for ages. Great stuff, just wonderful!

  6. What’s up, the whole thing is going sound here and ofcourse every one is sharing information, that’s in fact good, keep up writing.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s