Merebut Teknologi Pendidikan dari Nalar Pragmatis (3)

Bias dan Kegamangan Orientasi

Lebih jauh lagi, akibat dari reduksi tersebut, materi perkuliahan pun menjadi tidak tertata—selain tidak terintegrasi dengan bagus sebagaimana dikemukakan di depan. Beberapa mata kuliah diberikan untuk sekadar mengikuti tren pasar, seperti: (1) broadcasting, (2) kewirausahaan, dan bahkan (3) pengelolaan rumah produksi (production house).[1] Kurikulum yang ada dapat dikatakan sebagai: terlalu banyak materi diberikan karena gagap orientasi dunia kerja jurusan TP. Mata kuliah tersebut “disusupkan” sebagai upaya untuk membekali dan antisipasi bagi mahasiswa dalam menjaring pekerjaan setelah mereka lulus nantinya, terutama antisipasi kalau mereka tidak diterima dalam institusi pendidikan formal. Karena sempitnya pemahaman tentang TP, mata kuliah filsafat, sosiologi pendidikan, psikologi pendidikan, kurikulum, evaluasi pendidikan, dan lainnya tidak dapat berperan sebagai fondasi kajian dan praksis TP. Akhirnya TP dipahami sekadar sebagai praktik desain, implementasi, dan evaluasi penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran yang dangkal dan teknis belaka.

Mata kuliah yang acakadut, perkuliahan yang teknis dan dangkal adalah bukti dari bias dan kegamangan orientasi jurusan TP, yang pada hakikatnya juga menunjukkan bias dan kegamangan orientasi TP sebagai sebuah ranah kajian dan praksis di Indonesia sekarang ini. Contoh bias yang lebih konkrit juga dialami mahasiswa pada masa Praktik Pengalaman Lapangan (PPL). Mereka banyak ditempatkan di Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) di regional sekitar kampus dan Balai Pengembangan Multimedia (BPM); untuk jurusan TP di Jakarta (UNJ) mereka banyak ditempatkan di Pustekkom, Universitas Terbuka (UT), dan Pusat Sumber Belajar (PSB). Dulu tidak banyak atau bahkan belum ada yang ditempatkan di sekolah-sekolah sebagai pengkaji dan pengembang teknologi pendidikan, tentu karena ketidaktahuan mengenai perlunya posisi tersebut di sekolah dan ketidakberanian jurusan TP membuat terobosan baru ke sekolah-sekolah.

Sekarang dengan adanya posisi guru TIK di sekolah, banyak mahasiswa yang PPL di sekolah-sekolah. Namun, ketika mereka berada pada institusi-institusi pendidikan tersebut, mereka biasanya juga tidak mendapat berperan yang sebagaimana mestinya menjadi tugas seorang “ahli TP.” Hal itu karena pada institusi tersebut pun mahasiswa TP relatif dianggap seperti mahasiswa jurusan informatika, komputer, desain grafis, dan sejenisnya yang bertugas mendesain program, memproduksinya, dan “mengevaluasinya” secara dangkal. Mereka yang PPL di sekolah-sekolah itu kebanyakan sekadar berlatih menjadi guru TIK saja, belum berlatih menjadi ahli TP yang mestinya memegang pengelolaan media pembelajaran di sekolah.[2]

Bahkan ada mahasiswa TP yang sampai minta pindah ke jurusan yang dirasa masa depannya lebih terjamin, seperti jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), pendidikan bahasa Jawa, Bimbingan dan Konseling dan lainnya.[3] Banyak mahasiswa TP yang setelah berkuliah satu atau dua semester kemudian merasa salah jurusan, salah satunya ketika mendapati kenyataan prospek kerja lulusan TP suram. Sebagaimana sedikit diulas di depan, banyak mahasiswa yang masuk jurusan TP karena tidak sengaja, tidak tahu, atau tidak ada pilihan lain. Para siswa SMA yang mau mendaftar di perguruan tinggi negeri ketika memilih jurusan TP rata-rata alasannya karena: (1) memilih untuk jaga-jaga kalau pilihan pertama tidak lolos; (2) karena penasaran dengan TP; (3) karena TP dikira pendidikan teknik atau pendidikan teknologi; dan (4) karena ingin menjadi guru TIK.[4] Pengetahuan dan pemahaman awal yang tidak lengkap mengenai TP akhirnya menjadikan mahasiswa TP pada umumnya juga tidak dapat menentukan sikap secara jelas, termasuk goyah untuk pindah jurusan.[5]

Satu hal yang aneh dilakukan oleh jurusan TP adalah ketika berkelit mengenai masa depan lulusan. Beberapa jurusan TP mengalihkan kritik dari mahasiswa yang mempertanyakan mengenai kejelasan bidang kerja lulusan TP dengan memperlihatkan beberapa lulusan TP yang sukses di dunia kerja. Ironisnya adalah: lulusan yang ditunjukkan tersebut bukan lulusan yang sukses bekerja sesuai dengan apa yang dipelajarinya secara akademik di jurusan TP. Alumni yang dirujuk sebagai model alumni yang telah sukses misalnya adalah wartawan, politisi, pengusaha travel dan rumah makan elit, artis beken, dan lainnya. Hanya sedikit yang dirujuk adalah alumni yang betul-betul sukses bekerja dalam bidang kajian dan praksis TP, misalnya sebagai staf di Pustekkom, staf pusat sumber belajar dan dosen TP sendiri. [6] Hal itu tentu aneh, karena keberhasilan mereka menjadi artis, pengusahan, dan politisi misalnya, bukan karena ilmu TP yang mereka pelajari di kampus, melainkan usaha dan keuletan personal.

 

Menjernihkan Teknologi Pendidikan

Berdasarkan pada reduksi TP sebagaimana disampaikan di depan, maka pertanyaan yang perlu dijawab adalah: untuk mendapatkan hak dan jati dirinya sendiri, apa yang harus dilakukan oleh TP? Hak dalam hal ini adalah hak TP untuk mendapatkan posisi sesuai dengan bidang keahlian, peran, dan tanggung jawabnya dalam sistem pendidikan, terutama pendidikan formal. Jati diri yang dimaksud di sini tentu adalah hakikat TP secara filosofis dan praksis, secara esensial dan eksistensial. Untuk keperluan praktis, pertanyaan tentang hakikat “jati diri” tersebut kita “simpan” dulu dan akan kita ulas secara lebih serius pada bahasan lain. Mari kita konsentrasi pada pertanyaan tentang hak terlebih dahulu dengan mempertanyakan: apakah baiknya TP mengikuti permintaan tren dan pragmatisme pasar (dunia kerja) atau tetap berpegang pada landasan ideal dari ranah kajian dan praksis TP?

Pertanyaan tersebut mungkin memang terlalu mempertentangkan keduanya (dunia kerja dan bidang keilmuan), namun setidaknya itu adalah upaya untuk mempermudah dalam menjelaskan reposisi TP (repositioning). Berdasarkan pada pertanyaan dasar tersebut, sebagai upaya untuk reposisi TP secara praktis sekarang, terdapat beberapa pertanyaan lagi yang mesti dijawab. Pertanyaan ini muncul dalam perbincangan keseharian mahasiswa dan dosen dalam memutuskan berbagai orientasi dari banyak jurusan TP di Indonesia sekarang ini, termasuk orientasi ke TIK an sich. Minimal terdapat 2 (dua) pertanyaan dan 1 (satu) pernyataan.

Pertama, bukankah pendidikan bertujuan untuk mencetak tenaga kerja, atau minimal memberi kompetensi yang diperlukan untuk dapat bekerja sebaik mungkin setelah lulus nantinya? Dan bukankah hal itu artinya mesti mengarahkan jurusan pada pemberian materi yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja? Kedua, sementara itu bukankah pendidikan dan pembelajaran harus berdasarkan pada realitas sosio-kultural? Bukankah realitas praksis pembelajaran sekarang yang relatif dekat dengan ranah TP adalah TIK? Dengan kata lain, TIK adalah tren dan kebutuhan dalam pendidikan sekarang ini, lalu mengapa tidak mengikuti tren dan tuntutan kebutuhan TIK tersebut? Ketiga, pemenuhan tuntutan, kebutuhan, dan tren ini adalah keniscayaan yang harus “diakomodasi” oleh jurusan TP. Karena kalau tidak begitu (tidak mengikuti tren TIK), maka lulusan TP tidak akan laku di pasaran dan jadilah mereka bagian dari pengangguran terdidik. Mari kita bahas satu persatu.

Institusi pendidikan, dalam hal ini adalah kampus, salah satu tugasnya memang memberikan bekal kemampuan bagi mahasiswanya agar dapat digunakan sebaik-baiknya di dunia kerja setelah mereka lulus nantinya. Benar juga bahwa, jika memang pendidikan ditujukan untuk dunia kerja, maka kemampuan yang harus diberikan pada mahasiswa adalah yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Namun, itu bukan satu-satunya tugas pendidikan, dan bahkan bukan yang utama dan terutama. Dunia kerja (berkaitan dengan industri, ekonomi, perdagangan, bisnis) bukanlah tujuan utama dalam pendidikan, yang utama dalam pendidikan adalah aktvitas pembelajaran yang bertujuan memanusiakan manusia, mencerdaskannya, memerdekakannya, membudayakannya, dan membentuk karakter dirinya (lihat misalnya Freire, 1970; Surakhmad, 2009; Tilaar, 2002).

Benar juga bahwa pembelajaran dan pendidikan mesti merujuk pada realitas sosial-kultural, kebutuhan dan tuntutan dunia kerja. Di sinilah perbedaannya. Realitas sosio-kultural, kebutuhan, dan tuntutan apa yang dirujuk oleh TP? Kebutuhan dan tuntutan yang dirujuk oleh TP bukanlah pekerjaan dan dunia kerja semata, melainkan kebutuhan dan tuntutan TP dalam memfasilitasi pembelajaran (Januszewski & Molenda [eds.], 2008). TIK memang menjadi tren dalam perkembangan pendidikan kontemporer, oleh karena itu menguasai TIK juga dapat dikatakan sebagai tuntutan dan kebutuhan. Namun bukan berarti kemudian TP berubah menjadi sekadar mengkaji TIK belaka, yang artinya ikut-ikutan tren. Terdapat dimensi ideal yang tetap harus dipegang dalam kajian dan praksis TP. Mengakomodasi TIK dalam TP berarti mengkaji ranah psikologis, sosiologis, kultural, ideologis dan juga teknis berkaitan dengan TIK dan pendidikan.

Kalau TP berorientasi penuh pada pasar dan dunia kerja, maka jurusan TP akan sekadar menjadi lembaga pencetak tenaga kerja yang bertujuan profit dan duit. Padahal TP sebagai bidang kajian dan praksis pendidikan dengan menggunakan teknologi, tidak semata-mata dapat direduksi sebagai “bidang kerja” yang tujuan utamanya adalah untuk mencari dan menghasilkan uang. Hal itu karena praksis TP adalah praksis mendidik, sebagaimana guru yang juga tidak menjadikan profesi guru dan aktivitas mendidik sebagai bidang kerja yang tujuan utamanya untuk mendapatkan uang (Surakhmad, 2009). Pengertian aktivitas “kerja” dalam praksis TP dan pendidik pada umumnya dapat dikategorisasikan sebagai bidang atau aktivitas kerja sosial, kemanusiaan, kultural, dan moral. Bukan “kerja” yang sepenuhnya berdimensi transaksi ekonomi yang tujuan utamanya memang untuk mendapatkan keuntungan profit.

Pengertian ini bukan berarti bahwa aktivitas mendidik seperti guru dan bidang kerja TP tidak pantas menuntut gaji tinggi, sama sekali bukan. Bahkan sebaliknya, justru karena bidang garapan TP—sebagaimana guru pada umumnya—berdimensi sosial-kemanusiaan, maka gajinya harus tinggi. Bukan berarti ketika sebagai pekerja sosial dan pengabdian pada kemanusiaan lantas gajinya harus kecil. Bahkan idealnya lebih tinggi dari gaji pekerjaan yang memang tujuan utamanya sekadar untuk mencari duit. Karena mendidik adalah soal membentuk dan memuliakan manusia, bukan sekadar mencari duit. Gaji ini bukan tujuan utama, melainkan adalah atribut yang melekat dan niscaya ada pada aktivitas pedagogi tersebut. Gaji tinggi tersebut adalah hak yang harus diterima selain sebagai penghormatan atas pengabdiannya pada kemanusiaan, juga karena telah turut melaksanakan upaya “mencerdaskan kehidupan bangsa” (lihat pembukaan Undang-Undang Dasar 1945).

Hal yang sangat berbahaya ketika menggangap bahwa TP sebagai bidang kerja yang tujuan utamanya mencari keuntungan profit adalah: TP menggantungkan diri pada tren pasar, dengan asumsi tren pasar tersebut akan mendatangkan untung besar, dan akibatnya ranah ideal pendidikan di dalam TP dinafikan. Dalam hal ini adalah fenomena mengikuti tren pembelajaran berbasis TIK dalam realitas pendidikan yang sangat teknis yang kemudian menafikan hal-hal esensial dalam TP.[7] Selain itu jurusan TP akan menjadi tiada beda dengan lembaga kursus di mana—misalnya—ada kebutuhan atau tren menguasai komputer dasar, maka dibuatlah kursus komputer dasar; ada tren bahasa inggris, maka dibukalah kursus bahasa Inggris, dan lainnya tergantung tren dan kebutuhan.

Dengan demikian, tren teknologi informasi dan komunikasi yang datang sekarang ini adalah bagian dari TP, bukan sesuatu yang lain, namun juga bukan TP sepenuhnya. Di sinilah, TP tidak menafikan TIK sebagai sebuah perkembangan teknologi yang berguna bagi pendidikan terkini dan kemudian menjadi tren. Hanya saja TP menempatkan TIK sesuai dengan proporsinya, yakni bagian dari TP. Bentuk apresiasi TP terhadap tren TP tidak kemudian menjadikan TP berubah menjadi TIK, atau dalam praktik akademik: jurusan TP menjadi jurusan Pendidikan TIK. Apresiasi yang mesti dilakukan antara lain adalah dengan mengkaji secara serius dari praksis TIK dalam pembelajaran, dari perspektif ideologi, sosiologi, psikologi, kultural, ekonomi, dan lainnya

Terakhir, kekhawatiran kalau TP tidak mengikuti tren dan kebutuhan praktis dunia kerja, maka jurusan TP dan lulusannya tidak akan laku, sebenarnya tidak perlu ada. Asalkan secara struktural para pakar TP, jurusan TP, dan lainnya dapat memberikan penjelasan bahwa TP memang merupakan bidang kajian dan praksis yang sangat diperlukan dalam pendidikan, terutama di sekolah dan kampus. Implementasi TIK dan berbagai kebutuhan pendidikan serta masalah yang timbul tidak dapat ditangani hanya oleh kemampuan penguasaan TIK saja, namun harus lebih dari itu, yakni “kemampuan dan keahlian TP.” Para mahasiswa Jurusan Infokom dan lainnya relatif hanya menguasai teknis TIK saja. Pun ketika terdapat jurusan Pendidikan TIK, kemampuan yang dimiliki relatif hanya sebagai guru atau tukang mengajar TIK di sekolah. Bukan dan belum kemampuan analisis dan desain TP secara komprehensif. Penjelasan argumentatif seperti inilah yang harus dipublikasikan dan dibawa ke sekolah, kampus dan pengambil kebijakan pendidikan.


[1] Lihat kurikulum jurusan S1 TP Unnes pada http://teknodik.net/ dan http://teknodik.unnes.ac.id/ (diunduh pada 21 Maret 2010).

[2] Berdasarkan pada wawancara beberapa mahasiswa TP Unnes yang telah melaksanakan PPL di semarang.

[3] Terdapat mahasiswa yang selain kuliah di TP dia mengambil kuliah di kampus swasta dengan bidang IT, atau bahkan ada yang sama sekali keluar dan kemudian masuk dalam jurusan IT di kampus lain.

[4] Dari hasil wawancara sekilas dengan mahasiswa semester awal di Semarang (Unnes) dan Jakarta (UNJ). Motivasi untuk menjadi guru TIK relatif baru, yakni ketika sekarang ini di sekolah-sekolah dibutuhkan guru TIK untuk mengajar mata pelajaran TIK.

[5] Hal yang patut disayangkan juga adalah: pada saat pembekalan bagi siswa-siswa SMA dan yang sederajat ketika mereka akan melanjutkan kuliah, rata-rata belum banyak memiliki gambaran mengenai bidang kerja dari lulusan jurusan TP, karena TP memang belum familiar di sekolah-sekolah. Sebenarnya tidak hanya tentang bidang TP saja, dalam banyak kasus rata-rata sekolah-sekolah tersebut tidak memberikan pemahaman dan arahan yang jelas mengenai jurusan-jurusan yang akan diambil siswa-siswinya sesuai dengan bakat, minat dan potensi mereka.

[6] Berdasarkan dari wawancara dengan beberapa mahasiswa jurusan TP Unnes yang menjadi peserta dialog antara mahasiswa dan pihak dosen/jurusan  TP.

[7] Pada jurusan TP di Unnes dan UNJ misalnya, analisis konteks sosial, kultural, psiko-sosial diberikan seadanya saja. Dalam pengertian tidak begitu mendalam dan luas dalam mengkaji TP dalam konteks sosial, kultural, dan psiko-sosial tersebut.

2 thoughts on “Merebut Teknologi Pendidikan dari Nalar Pragmatis (3)

  1. Kak, kalau antara jurusan KesMas, PGSD, dan Pendidikan Bahasa Jawa. enaknya yang di nomor satukan buat jadi pilihan yang mana dulu ya ?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s